M - Time vs P - Time


Apa itu M-Time dan P-Time

M-Time adalah kependekan dari Monochronic Time, sedangkan P-Time adalah kependekan dari Polychronic Time. Monochronic Time (M-Time) berarti memperhatikan dan melakukan hanya satu hal dalam satu waktu. Polychronic Time (P-Time) berarti terlibat dengan banyak hal sekaligus. 

Di dalam budaya M-Time, waktu adalah suatu pengalaman yang digunakan dalam suatu rangkaian seri seperti halnya suatu jalan yang membentang dari masa lalu ke masa depan. Karenanya orang-orang yang berprinsip M-Time membagi waktu menjadi segmen-segmen tertentu dan terstruktur dengan baik, dan hal ini membuat seseorang bisa berfokus untuk melakukan suatu hal dalam suatu waktu. Dalam sebuah sistem M-Time, jadwal sangat diprioritaskan di atas segala hal yang lain.

Di dalam prinsip budaya M-Time, waktu adalah sesuatu hal yang berharga, di mana waktu bisa saja dihabiskan, disimpan, digunakan, atau mungkin hilang seperti halnya uang atau barang berharga lainnya. Waktu juga menjadi suatu sistem untuk menentukan prioritas, karenanya orang-orang dengan prinsip M-Time tidak suka terganggu dengan hal-hal yang diluar perencanaan, karenanya prinsip orang-orang M-Time akan menghalangi diri mereka dari orang lainnya, dan juga mereka bisa memprioritaskan suatu hubungan, dan meremehkan hubungan yang lainnya.

Hampir dalam segala hal, sistem P-time sangat bertentangan dengan M-time. P-Time sendiri adalah suatu sistem yang terbangun dengan banyaknya kegiatan dalam suatu waktu dan melibatkan banyak orang. Banyak di antara penganut sistem tersebut untuk memprioritaskan hubungan dibanding dengan jadwal yang telah direncanakan. Contohnya ketika kedua orang P-Time bertemu secara tidak sengaja di jalan, mereka akan menyelesaikan pembicaraan mereka dibanding harus terburu-buru menyelesaikan hal-hal yang sudah mereka rencanakan sebelumnya. 

Lalu, apa pentingnya memahami M-Time dan P-Time ini? Hal ini akan memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan masing-masing penganutnya. Di bawah ini adalah beberapa perbedaan antara kedua hal tersebut :


Perbedaan Mendasar M-Time VS P-Time
  1. M-Time fokus pada satu pekerjaan, sedangkan P-Time melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu
  2. M-Time berpusat pada pekerjaannya, sedangkan P-Time mudah terganggu dengan pekerjaan Lain
  3. M-Time sangat komitmen dengan target waktu, dan sangat disiplin, sedangkan P-Time cenderung fleksibel, tergantung hubungan dengan orangnya.
  4. M-Time cenderung Low Context, terlalu to do point, kurang basa-basi, sedangkan P-Time cenderung banyak basa-basi.
  5. M-Time terpaku pada perencanaan, sedangkan P-Time mudah mengubah perencanaan tergantung dengan kondisi dan situasi
  6. M-Time sangat menghargai Privasi, sehingga tidak mudah ikut campur pada hal yang bukan urusannya, sedangkan P-Time cenderung bersifat kekeluargaan.
  7. M-Time sangat menghargai hak milik seseorang, sehingga sulit untuk meminjam barang yang bukan miliknya, berkebalikan dengan P-Time yang cenderung bermudah-mudahan dengan hal tersebut
  8. M-Time sangat berdedikasi dan mementingkan pekerjaan, sedangkan P-Time sangat mementingkan Hubungan
  9. M-Time terbiasa dengan hubungan jangka pendek, sedangkan P-Time cenderung membangun hubungan jangka panjang



Hubungan antara Waktu dan Kedekatan


Di dalam sistem P-Time, perjanjian tidak terlalu berarti dan bisa saja berubah, bahkan pada menit-menit terakhir untuk memenuhi kebutuhan seseorang yang lebih penting (menurut penganutnya), seperti keluarga, teman, atasan, dll. Sebagian besar penganut sistem P-Time lebih memprioritaskan keluarga daripada pekerjaannya. Selain itu, orang-orang dengan sistem ini memiliki banyak teman dekat dan kerabat yang mereka habiskan waktu bersama dalam jangka panjang. Karenanya, jika orang-orang P-Time dalam suatu urusan, mereka menganggap melakukan pendekatan sangatlah diperlukan. Tidak jarang timbul perasaan-perasaan kewajiban 'balas budi' dalam segala hal dalam perlakuan yang dirasakan oleh orang-orang dalam P-Time, walaupun perlakuan yang dia dapatkan adalah suatu kewajiban dari pihak pemberi. Jadi, jangan heran mengapa banyak orang yang menganut P-Time sering melanggar dengan komitmen waktu.

P-Time dan Informasi

Orang-orang P-Time hidup dalam lautan informasi. Mereka merasa bahwa mereka harus tahu segala segala sesuatu dan tentang semua orang, baik itu yang berkaitan dengan mereka atau tidak. Mereka harus tahu semua hal yang sedang viral. Karenanya, mereka cenderung KEPO. Sangat sering terjadi kesalah pahaman antara orang-orang M-Time dan P-Time, sampai akhirnya mereka paham, "Oh, ada yah orang-orang macam begini". Di bawah ini adalah contoh kasus yang bisa anda pelajari.

Seorang  salesman Prancis yang bekerja untuk perusahaan Prancis yang baru-baru ini dibeli oleh orang Amerika, dia bekerja bersama seorang manajer Amerika baru yang mengharapkan hasil instan. Karena salesman ini merupakan orang yang bertipe P-Time, sehingga dia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan pelanggan, karena di beberapa perusahaan milik keluarga, hubungan antara pelanggan dengan penyedia jasa bisa bertahan sampai bertahun-tahun.
Manajer Amerika yang tidak memahami konsep ini menyuruh salesman tadi untuk mendapatkan pelanggan baru dalam tiga bulan. Karena salesman tadi merasa bahwa ini adalah hal yang mustahil dan merasa harus resign, dan menegaskan haknya untuk membawa semua pelanggan yang telah dia dapatkan bertahun-tahun. Kedua pihak tak satupun paham atas konsekwensi dari apa yang mereka lakukan.
Waktu sebagai Ukuran Kompetensi

Di Jepang, waktu di tempat kerja adalah ukuran kesetiaan kepada organisasi. Di Amerika, waktu dalam pekerjaan dapat menjadi tolok ukur untuk kompetensi, upaya, dan pencapaian. Berapa lama seseorang memegang pekerjaan sebelum dipromosikan adalah salah satu contoh; berapa lama dia tetap dalam posisi jabatan tertentu dan prestasi yang telah dibuatnya adalah hal yang berbeda. Berikut adalah contoh bagaimana budaya dapat memengaruhi persepsi:

Seseorang yang tidak memiliki kecerdasan atau ambisi besar di Amerika Serikat dapat bekerja selama bertahun-tahun, hanya menyumbang sedikit saja; namun fakta bahwa ia telah lama bekerja secara otomatis memberinya status.

Negara yang berorientasi pada masa depan dan masa lalu

Sangat penting untuk mengetahui segmen mana dari kerangka waktu yang ditekankan. Budaya di negara-negara seperti Iran, India, dan Timur Jauh berorientasi masa lalu. Lainnya, seperti perkotaan Amerika Serikat, berorientasi pada masa kini dan masa depan jangka pendek; dan yang lain lagi, seperti yang ada di Amerika Latin, berorientasi masa lalu dan masa kini. Di negara-negara seperti Jerman, di mana latar belakang sejarah sangat penting, setiap pembicaraan, buku, atau artikel dimulai dengan informasi latar belakang yang memberikan perspektif historis. Orang Jepang juga tenggelam dalam sejarah, namun mereka juga berorientasi pada perencana jangka panjang dan sangat baik. Saat ini, tidak ada penjelasan ilmiah mengapa dan bagaimana perbedaan semacam ini muncul.

Waktu sebagai alat komunikasi

Waktu adalah sistem dasar komunikasi dan organisasi. Bagi penganut M-Time, bagaimana ketepatan waktu digunakan mengungkapkan bagaimana perasaan orang tentang satu sama lain, betapa pentingnya bisnis mereka, dan di mana letak mereka di dalam prioritas seseorang. Waktu bisa
juga digunakan sebagai bentuk penghinaan yang sangat kuat. Lebih jauh lagi, karena aturannya informal, mereka beroperasi sebagian besar di luar kesadaran dan, sebagai konsekuensinya, waktu menjadi suatu ukuran penghargaan seseorang yang sulit untuk dimanipulasi, berbeda dengan kata-kata yang tentu gampang dimanipulasi. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui cara membaca pesan yang terkait dengan waktu dalam budaya lain. 

Tempo dan Ritme

Orang yang bergerak dengan tempo cepat sering dianggap "mengekor" mereka yang bergerak lebih lambat, dan mengalah tidak berkontribusi pada interaksi yang harmonis. Juga tidak memaksa orang yang bergerak cepat untuk bergerak terlalu lambat. Para penganut M-Time mengeluh bahwa orang P-Time butuh waktu lama untuk mengambil keputusan. P-Time mengeluh bahwa orang M-Time tidak menghargai proses mereka mencapai konsensus, yang membutuhkan lebih banyak waktu daripada pengambilan keputusan orang-orang M-Time.


Perencanaan dan Penjadwalan

Untuk dapat menjalankan bisnis dengan tertib, penting untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk setiap kegiatan, seberapa jauh ke depan untuk meminta janji, ketika sudah terlambat untuk melakukannya, seberapa jauh ke depan untuk menjadwalkan pertemuan atau liburan, dan berapa banyak waktu untuk memungkinkan persiapan laporan utama. Di beberapa negara, melakukan perencanaan dua pekan sebelum perjanjian adalah batas minimum, ada pun di negara tertentu, dua pekan adalah waktu yang terlalu lama untuk membuat suatu perjanjian, mungkin tiga sampai empat hari sudah cukup. 

Mencari Waktu yang Tepat

Memilih waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang besar adalah hal sangat penting. Politisi mempertaruhkan karier mereka di sana. Dalam pemerintahan dan bisnis, pengumuman perubahan besar atau program baru harus diatur waktunya. Pentingnya segmen waktu yang berbeda pada hari tertentu juga harus dipertimbangkan. Secara umum, untuk budaya Eropa utara, apa pun yang terjadi sangat pagi atau larut malam (yaitu di luar jam kerja) menunjukkan keadaan darurat. Di Amerika, makan siang bisnis singkat adalah umum dan jamuan bisnis jarang; tidak demikian halnya di Jepang, di mana fungsi bisnis makan siang dan makan malam adalah untuk menciptakan suasana yang tepat dan berkenalan.


Perjanjian dan Menunggu

Bagaimana seseorang menghargai waktu seolah-olah mampu menyampaikan bagaimana mereka menghargai seseorang atau suatu urusan. Waktu untuk menunggu misalnya, ini adalah salah satu hal yang memiliki pesan yang kuat. Jangan pernah membiarkan orang lain menunggu, kecuali anda adalah seorang pejabat dengan status yang tinggi, karena anda akan menyebabkan kebencian seseorang. Karena bagi sebagian orang, menunggu tidak hanya menunjukkan pelecehan, tapi juga menunjukkan kurangnya kedisiplinan dan kurangnya penghargaan terhadap orang. Inilah hal yang membuat interaksi antara orang-orang M-Time dan P-Time sangat bertolak belakang. 


Akhir kata, kira-kira kita masuk budaya yang mana ya???


Bahan Bacaan :

Hall, Edward T, and Mildred R. Hall. Hidden Differences: Doing Business with the Japanese. Garden City, N.Y: Anchor Press/Doubleday, 1987. Print.
Previous
Next Post »